TUGAS UTAMA GURU PROFESIONAL

MAKALAH
TUGAS UTAMA GURU PROFESIONAL

DI SUSUN OLEH :

ADRIMAN (1266045001)

JURUSAN PPGT P. ADM . PERKANTORAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadiratan Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat, karunia, dan ridha-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah ini yang berjudul“Tugas Utama Guru Profesional”. Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas kelompok pada mata kuliah “Profesi Keguruan”.
Dalam kesempatan ini kami tidak lupa mengucapkan Terima Kasih kepada Dosen pembimbing serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran perbaikan dari semua pihak yang terkait. Sehingga kekurangan yang ada dapat diperbaiki dan disempurnakan.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis berharap semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat sebagaimana mestinya, khususnya bagi mahasiswa.

Makassar, 27April 2014
TTD
Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan Masalah
Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
1.1 Pengertian Guru Profesional
1.2 Tugas dan Peran Guru Profesional
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Guru sebagai salah satu komponen di sekolah menempati profesi yang penting dalam proses belajar mengajar. Kunci keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah ada di tangan guru. Ia mempunyai peranan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan siswanya self concept, pengetahuan, ketrampilan, kecerdasan dan sikap serta pandangan hidup siswa. Oleh karenanya masalah sosok guru yang bagaimana yang kita butuhkan agar ia dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan siswa sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan yang diharapkan.
Guru sebagai pendidik merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaruan kurikulum, pengadaan alat-alat belajar sampai pada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan, selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan betapa signifikan (berarti penting) posisi guru dalam dunia pendidikan. Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Bab XI Pasal 39 Ayat 2). Guru sebagai seorang tenaga kependidikan yang professional berbeda pekerjaannya dengan yang lain, karena ia merupakan suatu profesi, maka dibutuhkan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan tugas dan fungsinya (Tabrani Rusyan, 1990: 5). Dengan demikian guru adalah seseorang yang professional dan memiliki ilmu pengetahuan, serta mengajarkan ilmunya kepada orang lain, sehingga orang tersebut mempunyai peningkatan dalam kualitas sumber daya manusianya.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas yang menjadi masalahnya, yakni sebegai berikut :
1) Apa Pengertian Guru profesional
2) Apakah tugas utama dan peran guru profesional

1.3 Tujuan

Berdasarkan uraian rumusan masalah diatas maka tujuan dari makalah ini ialah untuk dapat menambah wawasan penulis dan pembaca dalam memahami :
1) Guru profesional.
2) Tugas dan peran guru profesional.

BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian Guru Profesional

Kata profesional berasal dari kata sifat yang berarti pencaharian tau orang yang mempunyai keahlian. Dengan kata lain pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang dipersiapkan untuk pekerjaan tersebut.
Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode pembelajaran. Keahlian yang dimiliki oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus. Keahlian tersebut mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi, dan lisensi dari pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi profesi).
Guru yang profesional adalah orang yang memilki kemapuan atau keahlian khusus dalam bidan keguruan (pembelajaran) sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai seorang pembelajar dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain pemelajar profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik dan memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya, artinya seorang pembelajar telah memperoleh pendidikan formal serta menguasai berbagai strategi dalam kegiatan belajar mengajar,selain itu pemelajar yang profesional juga harus menguasai landasan-landasan pendidikan yang tercantu dalam kompetensi.
Salah satu kewenangan guru adalah menghadapi peserta didiknya, untuk itu ia harus memiliki kemampuan dan memiliki standar, dengan prinsif mandiri (otonom) atas keilmuannya. Jadi untuk berprofesi sebagai seorang guru perlu adanya kekuatan pengakuan formal melalui tiga tahap; yakni; sertifikasi; regristrasi dan lisensi.
a. Sertifikasi adalah pemberian sertifikat yang menunjukkan kewenangan seseorang anggota seperti ijasah tertentu.
Menteri Pendidikan akan mengeluarkan peraturan menteri nomor 18 tahun 2007 yang berisi kebijakan mengenai sertifikasi guru. Berdasarkan peraturan tersebut, sertifikasi dilaksanakan dalam bentuk penilaian portofolio yaitu pengakuan atas pengalaman professional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan: kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatiahan, pengalaman mengajar, perencanan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi akademik, karya pengenbangan profesi, keikutsertaan dalam forum ilmiah, penglaman organisasi dibidang kependidikan dan social, dan penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.
b. Regritasi mengacu kepada suatu pengaturan di mana anggota diharuskan terdaftar namanya pada suatu badan atau lembaga
c. Lisensi adalah suatu pengaturan yang menetapkan seseorang memperoleh izin dari yang berwajib untuk menjalankan pekerjaanya.

1.2 Tugas dan peran Guru Profesional

A. Tugas Pokok Guru
Seorang guru yang memiliki tugas yang beragam yang kemudian akan diterapkan dalam bentuk pengabdian.Tugas pokok trsebut adalah :
1. Tugas Guru dalam bidang Profesi
Yaitu suatu proses transmisi ilmu pengetahuan,ketrampilan dan nilai-nilai hidup.Menurut Undang-undang Guru dan Dosen (UU.RI.No.14 th 2005) yang terdapat dalam bab 2 “KEDUDUKAN,FUNGSI DAN TUJUAN” Pada Pasal 4 bahwa :
Seorang guru memiliki tugas sebagai berikut :
Kedudukan Guru sebagai Tenaga Profesional sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
a) Guru Sebagai Pendidik
Guru adalah seorang pendidik yang menjadi tokoh / panutan bagi peserta didik dan lingkungannya.Maka seorang guru itu harus :
 Mempunyai standar kualitas pribadi yang baik
 Bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses pembelajaran di sekolah
 Berani mengambil keputusan berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi
b) Guru Sebagai Pelajar
Di dalam tugasnya seorang guru membantu peserta didik dalam meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.Maka seorang guru harus mengikuti perkembangan teknologi agar apa yang di bawakan seorang guru pengajarannya tidak jadul.
c) Guru Sebagai Pembimbing
Sebagai Pembimbing seorang guru dan siswa di harapkan ada kerja sama yang baik dalam merumuskan tujuan secara jelas dalam proses pembelajaran.
d) Guru Sebagai Pengarah
Seorang guru di harapkan dapat mengarahkan peserta didiknya dalam memecahkan persoalan yang telah di hadapinya dan bisa mengarahkan kepada jalan yang benar apabila mengalami persoalan yang negatif yang telah menimpa dirinya.
e) Guru Sebagai Pelatih
Mengembangkan ketrampilan-ketrampilan pada peserta didik dalam membentuk kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing dari peserta didik.
f) Guru Sebagai Penilai
Penilaian merupakan proses penetapan kualitas hasil belajar / proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik yang meliputi tiga tahap yaitu : Persiapan,Pelaksanaan dan Tindak lanjut.

2. Tugas Guru dalam bidang Kemanusiaan

Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional,tugas manusiawi,dan tugas kemasyarakatan (sivic mission ) jika dikaitkan dengan kebudayaan,maka tugas pertama berkaitan dengan logika dan estetika,tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika.
Tugas manusiawi / kemanusiaan adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya.Adapun tugas-tugas tersebut meliputi :
a) Seorang guru dapat menjadi orang tua bagi murid-muridnya di sekolah
b) Seorang guru dapat menarik simpati para peserta didiknya
c) Seorang dapat menjadi motivator dalam kegiatan belajar mengajar
3. Tugas Guru dalam bidang Kemasyarakatan
Sebagai seorang warga negara yang baik,seorang guru turut mengembangkan dan melaksanakan apa yang telah di gariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.Adapun tugas tersebut meliputi :
a) Mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi WNI yang bermoral pancasila.
b) Mencerdaskan bangsa Indonesia.

B. Peran Guru

Menurut UU.RI.No.14 th 2005 bab 2 pasal 5 yang berbunyi :
Kedudukan dosen sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat 1 berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran dosen / guru sebagai agen pembelajaran,pengembang ilmu pengetahuan,tekhnologi dan seni serta pengabdi kepada masyarakat berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Adapun peran guru sebagai berikut :

1. Sumber Belajar
Peran guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting, sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penggunaan materi pelajaran. Guru harus memiliki ilmu dan pengalaman yang luas dari peserta didik apa yang tidak di pahami oleh peserta didik,diharapkan seorang gurulah yang akan membantunya dalam memecahkan persoalan yang di hadapi.

2. Fasilitator
Sebagai fasilitator seorang guru berperan dalam memberikan pelayanan untuk memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran. Agar dapat melaksanakan tugas sebagai fasilitator ada beberapa hal yang harus di pahami guru,khususnya hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan berbagai media dan sumber pembelajaran :
a) Memahami berbagai jenis media dan sumber belajar beserta fungsi masing-masimg media tersebut.
b) Mempunyai ketrampilan dalam merancang suatu media.
c) Mampu mengorganisaikan berbagai jenis media serta dapat memanfaatkannya sebagai sumber belajar.
d) Mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dengan peserta didik.

3. Pengelolah
Seorang guru sebagai pengelolah pembelajaran berperan dalam menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa belajar dengan nyaman.
Sebagai manager,guru memiliki 4 fungsi umum :
a) Merencanakan tujuan belajar.
b) Mengorganisasikan berbagai sumber belajar untuk mewujudkan tujuan belajar.
c) Memimpin,meliputi : memotivasi,mendorong dan menstimulasi peserta didik.
d) Mengawasi segala sesuatu dalam rangka mencapai tujuan.

4. Demonstrator
Peran guru sebagai demonstrator adalah peran untuk mempertunjukan kepada siswa segala sesuatu yang dapat membuat siswa lebih mengerti dan memahami setiap pesan yang disampaikan. seorang guru dapat mempertunjukkan kepada peserta didik agar memahami dan mengerti dari setiap pesan yang di sampaikannya.

5. Pembimbing
Peran guru sebagai pembimbing ialah membimbing siswa agar dapat mememukan berbagai potensi yang dimilikinya sebagai bekal hidup mereka, membimbing siswa agar dapat mencapai dan melaksanakan tugas-tugas perkembangan mereka, sehingga dengan ketercapaian itu ia dapat tumbuh dan berkembang sebagai manusia ideal yang menjadi harapan orang tua dan masyarakat. Maka seorang guru berperan dalam membimbing dan mengarahkannya.
Hal yang harus di miliki seorang guru antara lain :
a) Seorang guru harus memahami peserta didik yang sedang di bimbingnya.
b) Seorang guru harus memahami dan terampil dalam merencanakan tujuan kompetensi yang akan di capai.

6. Motivator
Peran guru sebagai motivator ialah bagaimana seorang guru dapat menumbuhkan semangat, mendorong siswa untuk giat dalam belajar. Untuk menghasilkan sistem belajar yang optimal seorang guru di tuntut kreatif dalam membangkitkan motivati belajar peserta didiknya dengan cara :
a) Memperjelas tujuan yang ingin di capai.
b) Membangkitkan minat peserta didik dalam belajar.
c) Menciptakan suasana yang menyenangkan.
d) Memberikan pujian terhadap keberhasilan peserta didik.
e) Memberi komentar yang mendidik tentang hasil pekerjaan peserta didik.

7. Evaluator
Peran guru sebagai evaluator ialah guru berperan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang keberhasilan pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan adanya evaluasi seorang guru dapat mengetahui apakah siswanya telah berhasil sehingga mereka layak untuk diberikan materi yang baru ataukah sebaliknya sehingga mereka perlu adanya remidial.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Sesuai dengan Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. Oleh sebab itu guru dituntut agar terus mengembangkan kapasitas dirinya sesuai dengan perkembangan jaman, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk mampu bersaing baik di forum regional, nasional maupun internasional.
Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: “Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah”. Guru professional akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode pembelajaran.

B. Saran
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah yang berjudul “ Tugas Utama Guru Profesional” masih jauh dari kesempurnaan, oleh karnanya kritik dan saran yang bersifat membangun sangat di perlukan untuk kedepannya agar lebih baik lagi.

Daftar Pustaka

Nurdin, Muhammmad. 2010. Kiat Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: AR. Ruzz Media Group.
Fungsi Guru Sebagai tenaga Profesional.www.Google.co.id.Diakses pada tanggal 26 April 2014
Sanjaya, Wina. (2006) Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Poses Pendidikan, Bandung : Badan Penerbit : Kencana Pranada Media Group.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

KATA-KATA MOTIVASI ISLAMI

• Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar (QS.AlAnkabut(29) ; 45)
• “Bacalah oleh kalian Al-Qur`an. Karena ia (Al-Qur`an) akan datang pada Hari Kiamat kelak sebagai pemberi syafa’at bagi orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 804]
• “Akan didatangkan Al-Qur`an pada Hari Kiamat kelak dan orang yang rajin membacanya dan senantiasa rajin beramal dengannya, yang paling depan adalah surat Al-Baqarah dan surat Ali ‘Imran, keduanya akan membela orang-orang yang rajin membacanya.” [HR. Muslim 805]
• “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari 5027]
• “Yang membaca Al-Qur`an dan dia mahir membacanya, dia bersama para malaikat yang mulia. Sedangkan yang membaca Al-Qur`an namun dia tidak tepat dalam membacanya dan mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” [Al-Bukhari 4937, Muslim 244]
• “Perumpaan seorang mu`min yang rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Al-Atrujah : aromanya wangi dan rasanya enak. Perumpamaan seorang mu`min yang tidak membaca Al-Qur`an adalah seperti buah tamr (kurma) : tidak ada aromanya namun rasanya manis. Perumpamaan seorang munafiq namun ia rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Raihanah : aromanya wangi namun rasanya pahit. Sedangkan perumpaan seorang munafiq yang tidak rajin membaca Al-Qur`an adalah seperti buah Hanzhalah : tidak memiliki aroma dan rasanya pun pahit.” [Al-Bukhari 5427, Muslim 797]
• “Sesungguhnya Allah Swt dengan Al-Qur`an ini mengangkat suatu kaum, dan menghinakan kaum yang lainnya.” [HR. Muslim 269]
• “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi)
• “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan mahir adalah bersama para malaikat yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan susah membacanya baginya dua pahala. ” (Hadits Muttafaq ‘Alaih).
• “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).” (QS. Al AhQaaf 46:15)
• “Manusia itu mengikut agama kawannya. Maka hendaklah diperhatikan siapa yang hendak dijadikan sebagai kawannya.” (HR Tirmidzi)
• Orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (al-Baqarah: 277)
• Rasulullah saw. bersabda, “Orang yang paling aku benci dan yang paling jauh majelisnya dari aku pada hari kiamat adalah orang yang banyak omong, yang membuat dan bicara seenaknya, serta yang menyombongkan diri (angkuh).” (HR Ahmad, Ibnu Hibban, Abu Nuaim)
• Apa yang diperintahkan Rasul kepadamu maka laksanakanlah. Dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah. (Q.S. Al-Hasyr : 7)
• “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina dina” (QS. Al Mu’min: 60)
• “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni’mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS Ibrahim : 7)”
• “Hai orang-orang yang beriman bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (diperbatasan negerimu) dan bertawakalah kepada Allah supaya kamu beruntung.” (QS Al Imran 200)
• “Bencana seorang hamba adalah jika ia telah merasa puas dengan pengetahuannya, serta puas dengan kebaikan yang dapat ia lakukan.” (Abu AMr Ismail bin Najid rahimahullah)
• “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
• ” Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir tumbuh seratus biji. Dan Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendaki . . . ” (QS. Al Baqarah 261)
• Selemah-lemah manusia ialah orang yg tak bisa mencari sahabat dan orang yang lebih lemah dari itu ialah orang yg mensia-siakan sahabat yg telah dicari (Ali Bin Abi Thalib)
• Orang yang terlalu memikirkan akibat dari sesuatu keputusan atau tindakan, sampai kapanpun dia tidak akan menjadi orang yang berani. (Ali Bin Abi Thalib)
• Orang-orang yang suka berkata jujur mendapatkan tiga hal, kepercayaan, cinta, dan rasa hormat.
• (Ali Bin Abi Thalib)
• Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak. (Ali Bin Abi Thalib)
• Perkataan sahabat yg jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang. (Ali Bin Abi Thalib)
• Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dikeluarkan tapi ilmu bertambah bila dikeluarkan. (Ali Bin Abi Thalib)
• Tukang mengadu domba dan tukang bohong dalam waktu sesaat bisa merusak masyarakat, padahal bila tukang sihir yang melakukannya ia akan butuh satu tahun.
• “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az Zumar: 9)
• “Dunia ini terlaknat, dan terlaknat pula semua yang ada di dalamnya, kecuali mengingat Allah dan siapa saja yang menolong-Nya, orang yang memiliki pengetahuan, dan penuntut ilmu.” (HR. Tirmidzi)
• Membaca itu adalah kunci dari segala ilmu. Tapi membaca hanya akan memberi makna dan kebaikan dalam kehidupan manusia jika ia dilakukan sesuai dengan petunjuk Allah: Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
• ” Pahlawan sejati adalah orang yang dapat memanfaatkan setiap momentum kepahlawanan “(Anis Matta)
• ” Barang siapa yang tidak menyibukan diri dalam kebaikan niscaya ia akan disibukan dalam keburukan “
• Kreatifitas, kegigihan dan keuletan dalam melakukan percepatan diri adalah kunci sukses karya besar orang-orang biasa dalam meluarbiasakan dirinya ” (Solikhin Abu Izzudin, ZERO to HERO)
• ” Para pemenang berfikir tentang apa yang dapat mereka lakukan, orang yang gagal berfikir terus tentang apa yang tidak dapat mereka dan seharusnya mereka lakukan ”(Trutsco, p.81)
• Barang siapa memelihara ketaatan kepada Allah dimasa muda dan masa kuatnya, maka Allah akan memelihara kekuatannya disaat tua dan saat kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberikan kekuatan pendengaran, penglihatan, kemampuan berfikir dan kekuatan akal ”(Ibnu Rajab)
• Barang siapa mengenal dirinya maka sungguh dia akan mengenal Tuhannya ” (Ali bin Abi Thalib)
• Kenyataan hari ini adalam mimpi hari kemarin, dan mimpi hari ini adalah kenyataan esok hari (Hasan Al Banna)
• Manusia dinilai berdasarkan perbuatan mereka. Kebesaran jiwa mereka yang menentukan karya besar mereka memang besar. Di mata orang-orang kerdil, masalah-masalah sepele menjadi besar, bagi yang berjiwa besar masalah-masalah besar terlihat kecil
• Orang yang melewati satu hari dalam hidupnya tanpa ada satu hak yang ia tunaikan atau suatu fardhu yang ia lakukan atau kemuliaan yang ia wariskan atau kebaikan yang ia tanamkan atau ilmu yang ia dapatkan, maka ia telah durhaka pada harinya dan menganiaya terhadap dirinya (Dr. Yusuf Al Qaradhawi, Al Waktu fi Hayatil Muslim, hal. 13)
• Berapa banyak amal yang remeh menjadi besar gara-gara niat, dan berapa banyak amal yang besar menjadi remeh gara-gara niat. (Abdullah bin Mubarak)
• Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu, tetapi kita akan terlambat jika kita merasa terlambat untuk memperbaiki sesuatu itu.
• ” Tahun ibarat pohon, bulan-bulan laksana cabangnya, hari-hari sebagai rantingnya, jam-jam sebagai daunnya dan nafas kita sebagai buahnya. Barang siapa yang nafasnya selalu dalam ketaatan, maka orang itu telah menanam pohon yang baik.” (Ibnul Qayyim, Al Fawaid, hal. 164)
• ” Hari-hari adalah lembaran baru untuk goresan amal perbuatan, jadikanlah hari-harimu sarat dengan amalan yang terbaik, kesempatan itu akan segera lenyap secepat perjalanan awan, dan menunda-nunda pekerjaan adalah tanda orang yang merugi, dan barang siapa bersampan kemalasan, ia akan tenggelam bersamanya.” (Ibnul Jauzy, Al Muhdisy, hlm. 382)
• ” Misi yang ideal adalah misi yang terkait bagaimana kelak kita akan bertemu dengan Allah swt. Itulah tujuan hidup yang sesungguhnya ” (Anis Matta)
• ” Kemauan adalah tenaga jiwa. Karena merupakan tenaga jiwa, kemauan tidak dapat berdiri sendiri. Tenaga jiwa akan kuat apabila selalu dipupuk dengan baik seperti halnya tenaga fisik kita. Tenaga fisik kita akan kuat jika dipelihara dan dibangun dengan baik ” (Anis Matta)
• ” Akar yang paling dalam dari kepribadian seseorang ada pada pikirannya. pikiran itu seperti tanah. Bibit yang anda tanam didalamnya adalah motivasi dan yang tumbuh dari bibit tersebut adalah perilaku. Anda tidak dapat menanam sembarang bibit pada sembarang tanah. Anda harus mengapeling terlebih dahulu tanahnya dan mengetahui tanaman apa yang cocok untuk pikiran seperti itu ”(Anis Matta)
• ” Ilmu itu seperti bangunan, jika pondasi yang anda bangun hanya cocok untuk membangun bangunan dua lantai, Anda tidak dapat membangun menjadi tiga lantai ” (Anis Matta)
• “ Agar semangat, mulailah hari anda dengan doa dan keceriaan”
• “ Orang yang paling gila sesungguhnya adalah orang yang paling meremehkan Tuhannya”
• Kekurangan dan kelebihan seseorang akan tampak jika kita terus-menerus menginstropeksi diri. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Janganlah berputus asa karena ia bukan akhlak kaum muslimin. Hakikat hari ini adalah impian hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. Kesempatan masih luas dan unsur-unsur kebaikan masih kuat dan besar dalam jiwa kalian yang mukmin, meskipun tertutupi oleh berbagai fenomena kerusakan. Yang lemah tidak selamanya lemah, dan yang kuat tidak selamanya menjadi kuat. (Imam Hasan al-Banna)
• “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang ia lakukan untuk hari esok. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
• Andaikata jiwa terus sadar dan waspada, maka ia akan terus melakukan yang terbaik. Jika tidak, maka ia akan terjebak pada perasaan bangga, ketakaburan, dan sikap meremehkan orang-orang lain. Akhirnya, ia akan berkata, “Aku telah memiliki segalanya, aku berhak untuk berbuat apa saja!” Orang seperti itu akan membiarkan hawa nafsunya terjun ke dalam dosa-dosanya. Padahal, kalau saja ia berdiri di pantai kerendahan hati dan jiwa pengabdian pada Allah, akan selamatlah ia. (Imam Ibnu al-Jauzy).
• Kendala pertama yang dihadapi oleh orang yang menuju Allah adalah kendala ilmu (Imam al-Ghazali)
• Keberanian yang terpuji adalah didasari ilmu dan perhitungan, bukan nekat dan ngawur. Karena itu, orang yang kuat dan perkasa adalah orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah hingga dapat melakukan yang mengandung kemaslahatan dan meninggalkan yang tidak mengandung maslahat. Sedangkan orang yang emosional bukanlah pemberani dan juga bukan orang kuat. (Imam Ibnu Taimiyah)
• Jika seseorang datang ke sebuah majelis, hendaknya ia hadir bukan karena lapar, tetapi atas niat dan motivasi yang baik dan harus melupakan niatan-niatan duniawi. Saat itulah hatinya dapat menerima nasehat-nasehat, sehingga ia sadar atas apa yang pernah diperbuatnya dan tertarik untuk melakukan apa yang diketahuinya baik. Ia akan bangkit di atas perahu makrifat-nya. Saat itulah hati mulai sadar atas perbuatan-perbuatan buruk yang pernah dilakukannya, sehingga ia menyesal dan keingintahuannya semakin bertambah besar. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Kebohongan berawal dari jiwa, lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan. Kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan. Dan akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan, dan segala keadaan. (Imam Ibnul Qayyim)
• Akibat Cinta Dunia: Sesungguhnya dunia ini hanyalah untuk dilalui dan bukan untuk diramaikan. Hal itu tentunya telah Anda ketahui dan pahami. Apa yang dicapai oleh orang-orang yang sangat cinta dunia hanyalah akan menyakitkan badan dan merusak agamanya. Jika Anda tahu akan hal itu, kemudian Anda meratapi hilangnya sesuatu yang tidak sepatutnya Anda miliki, maka kesedihan itu akan menyiksa Anda, karena kelak Anda akan mengetahui maslahat di balik kehilangan itu. Bersabarlah menerima kesedihan itu sebagai balasan kini, agar Anda selamat dari siksa yang datang kemudian. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Sesungguhnya, apa yang disebut berjuang melawan hawa nafsu adalah laksana berjuangnya orang sakit yang cerdik. Ia bersabar untuk meminum obat meskipun enggan, karena berharap dirinya sehat. Ia mau berpahit-pahit dan memakan makanan yang sesuai dengan anjuran dokter dan tidak menuruti hawa nafsunya untuk mengkonsumsi apapun yang akan membuatnya menyesal, karena akan tidak diperbolehkan makan selamanya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Berinteraksi dengan al-Quran: Kenikmatan hidup di bawah naungan al-Quran tak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang langsung menjalaninya. (asy-Syahid Sayyid Quthb)
• Betapa banyak manusia yang menyembunyikan apa yang tidak Allah ridhai, lalu Dia membongkarnya setelah beberapa lama. Barangkali mereka terperangkap dalam sebuah bencana yang membuat apa yang tersembunyi selama ini menjadi tersingkap di mata manusia. Semua yang terjadi seolah menjadi jawaban terhadap semua dosa yang selama ini pernah mereka lakukan. Manusia harus sadar bahwa ada Zat Yang Maha Membalas perbuatan dosa. Manusia pun harus sadar bahwa tiada berguna dinding yang ia jadikan benteng untuk bersembunyi. Ia pun harus tahu bahwa amal-amalnya tak akan sirna begitu saja laksana debu yang ditiup angin. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Hal-hal yang haram memang tampak begitu manis. Akan tetapi, di balik itu semua ada celaka yang berujung pada siksaan dan hinaan di dunia dan akhirat. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Orang yang paling tertipu ialah mereka yang selalu melanggar apa yang Allah benci, namun mereka selalu memohon kepada-Nya agar dikaruniai apa yang mereka sukai dan kehendaki. Orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya, namun tetap mengharapkan ampunan dan kebaikan dari Allah. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Maksiat ibarat makanan yang ditelan oleh orang yang lapar, namun ia tak pernah merasa kenyang, malah membuatnya semakin lapar. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Hukuman paling pertama bagi orang yang berbohong dari kebohongannya adalah dia tetap dianggap bohong ketika ia bersikap jujur. (Imam Abdullah bin al-Mubarak)
• Dosa terburuk yang akan berujung pada siksaan maha berat ialah terus-menerus berbuat dosa. Sang pelaku kemudian berpura-pura istighfar, berpura-pura shalat, dan memperbanyak ibadah. Ia mengira bahwa kepura-puraan itu berguna bagi dirinya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Tatkala seorang hamba hanya baik kepada makhluk tetapi tidak baik kepada Sang Khaliq, akan terbaliklah keadaan dirinya. Yang memujanya akan mencelanya. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Tidaklah seseorang memiliki panjang angan-angan, melainkan amalnya menjadi buruk. (Imam Hasan al-Bashri)
• Anda akan merasakan bahwa mengendalikan hawa nafsu memiliki kenikmatan-kenikmatan yang tiada terkira. Kenikmatan itu akan semakin terasa ketika nafsu semakin kuat dan keras ditekan. Orang yang bisa mengatasi gejolak hawa nafsunya pantaslah dimuliakan dan disebut pemenang. Sebaliknya, seseorang yang dikalahkan hawa nafsunya menjadi pecundang yang sangat hina. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Hendaklah Anda ingat, tatkala Anda bisa menekan hawa nafsu, akan banyak hikmah dan keselamatan yang Anda peroleh dari kekuatan kesabaran dalam menghadapi gejolak nafsu. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• Rasanya ada orangtua yang tidak lagi dihormati di masa tuanya, hingga ia merasa begitu resah. Ia tidak tahu bahwa hal itu diakibatkan dosa-dosanya di masa muda. Jika Anda melihat suatu siksaan menimpa, ketahuilah bahwa itu diakibatkan oleh dosa-dosa. (Imam Ibnu al-Jauzy)
• “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minuun, 23:115)
• “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (QS. Al-Fajr, 89:23-24)
• ”Ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapuskannya, dan pergaulilah orang lain dengan akhlak yang baik.”
• Jangan biarkan hari berlalu tanpa diisi dengan hikmah al Quf’an, ambil dan resapi hingga kelubuk hati, amalkan dan sebarkan.
• Iman adalah ucapan dengan lisan , keyakinan dengn hati , dan amalan dengan anggota badan.iman juga adalah ucapan dan amalan bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
• Sesungguhnya orang – orang mukmin itu adalah orang yang apabila di sebut nama Allah gemetarlah hati mereka,dan bila dibacakan kepada mereka ayat – ayat Nya bertambahlah iman mereka,dan mereka hanya bertawakal kepadaRabbnya. ( QS. Al – Anfal ayat 2 – 4 )
• Orang yang bisa mengalahkan syahwat dan amarahnya maka setan akan takut walau hanya bayangannya. Namun barang siapa dikalahkan oleh syahwat dan amarahnya,dia akan takut dengan khayalannya.
• Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak di hari kiamat daripada budi pekerti yamg baik . Dan sungguh allah membenci orang yang suka berkata keji , berucap kotor /jelek. (Hr. At – Tirmidzi )
• Iman itu memiliki 60 cabang . cabangnya yang paling utama adalah ucapan ‘ laa ilaaha illallah ‘ dan cabangnya yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan , dan sifat malu itu juga adalah bagian dari iman. (Hr. Muslim, { dari sahabat Abu Hurairah } )
• Kalau seandainya orang yang lewat di depan orang yang sedang shalat mengetahui apa yang akan menimpanya (begitu besar dosanya), niscaya ia akan memilih berdiri selama 40 tahun karena itu lebih baik baginya dari pada lewat di depan orang yang sedang shalat .
• Shalatlah seperti shalat orang yang hendak meninggal, yakni seakan – akan engkau melihat Allah, jika engkau tidak mampu melihat- Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.
• Hiasilah Al – Qur ‘ an dengan suara – suara kalian. (Karena suara yang indah lagi merdu akan menambah keindahan Al – Qur ‘ an).
• Segala urusan yang tidak dimulai dengan Bismillahirahmaanirrohiim maka terputuslah berkahnya (Hadits Nabi)
• Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka (Q.S. Ar-Ra’d ayat 11

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

PENTINGNYA SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN DALAM PELAKSANAAN BELAJAR PEMBELAJARAN

MAKALAH
PENTINGNYA SARANA DAN PRASARANA PENDIDIKAN DALAM PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

OLEH
ADRIMAN (1266045001)

PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karna berkat dan rahmatNya penulis bisa menyelesaikan tugas makalah ini pada mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran” yang berjudul “Pentingya Sarana dan Prasarana Pendidikan Dalam Proses Pelaksanaan Belajar Mengajar”.
Penulis juga mengucapkan terima kasih bagi semua pihak yang turut serta membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis juga menyadari bahwa dalam makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karna itu penulis mengharapkan kritik dan saran positif dari pembaca makalah ini semoga makalah ini menjadi lebih baik dan berdayaguna untuk kedepannya dimasa yang akan datang.

Makassar , 25 Desembar 2014

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
D. Manfaat
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Sarana dan Prasarana
2. Fungsi jenis dan sifat sarana dan prasarana
3. Proses pengelolaan sarana dan prasarana
4. Pentingnya Sarana dan Prasarana dalam Proses Belajar Mengajar
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen. Salah satunya adalah sarana dan perasarana yang dibutukan dalam proses belajar dan mengajar di sekolah. Berbicara sarana dan prasarana di dalam lingkungan pendidikan merupakan aspek yang menarik untuk di ulas, apalagi dalam kegiatan proses belajar dan pembelajaran di sekolah yang berhubungan dengan pengunaan sarana dan prasarana.
Sarana dan Prasarana merupakan salah satu objek yang sangat vital dalam mendukung tecapainya tujuan pendidikan dalam proses belajar dan mengajar. Dierah sekarang ini berbagai macam cara telah di lakukan praktisi pendidikan untuk meningkatkan mutu pendidikan salah satunya adalah dengan pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan. Kemampuan guru dan lembaga dalam memenuhi sarana dan prasarana pendidikan akan sangat mempengaruhi efektivitas pembelajaran.
Sehubungan dengan pembahasan di atas dalam makalah ini akan dibahas tentang pentingnya sarana dan prasarana dalam proses belajar dan mengajar serta pengembangannya.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini dapat dirumusakan beberapa masalah yang akan dibahas lebih jauh, antara lain:
1) Pengertian sarana dan prasarana
2) Fungsi jenis dan sifat sarana dan prasarana
3) Proses pengelolaan sarana dan prasarana
4) Pentingnya Sarana dan Prasarana dalam proses belajar dan mengajar

C. Tujuan penulisan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan makalah ini sebagai berikut :
1) Dapat mengetahui pengertian sarana dan perasarana
2) Dapat mengetahui fungsi jenis dan sifat sarana dan prasarana
3) Untuk mengetahui proses pengelolaan sarana dan prasarana
4) Untuk mangetahui pentingnya sarana dan prasarana dalam proses belajar dan mengajar

D. Manfaat

Makalah ini dibuat dangan manfaat agar dapat menambah ilmu pengetahuan tentang pentingnya sarana dan prasarana pendidikan dalam proses belajar dan mengajar.

BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian sarana dan prasarana

Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan; alat; media.
Menurut E. Mulyasa, Sarana Pendidikan adalah peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar, mengajar, seperti bangunan, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran.
Sarana pendidikan merupakan sarana penunjang bagi proses belajar-mengajar. Menurut Pasukan Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departmen Pendidikan dan Kebudayaan, yang dimaksud dengan:
Sarana pendidikan adalah semua keperluan yang diperlukan dalam proses belajar-mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien.
Sedangkan pengertian prasarana secara etimologis (arti kata) presarana berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya: lokasi/tempat, bangunan sekolah, lapangan olah raga, uang dan sebagainya. Sedang sarana seperti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan, misalnya: ruang, buku, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya.
Menurut Ibrahim Bafadal bahwa prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud sarana pendidikan adalah semua keperluan yang secara langsung dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar mengajar, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efesien. Sedangkan yang dimaksud dengan prasarana pendidikan adalah keperluan yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pendidikan atau pengajaran, seperti halaman, kebun, taman sekolah, jalan menuju sekolah, tetapi dimanfaatkan secara langsung untuk proses belajar mengajar, seperti taman sekolah untuk pengajaran biologi, halaman sekolah sebagai sekaligus lapangan olahraga, komponen tersebut merupakan sarana pendidikan.

2. Fungsi jenis dan sifat sarana dan prasarana

Fasilitas atau benda-benda pendidikan dapat ditinjau dari fungsi, jenis atau sifatnya, yaitu:
¢ Pertama, ditinjau dari fungsinya terhadap proses belajar mengajar. Sarana dan prasarana pendidikan ada yang berfungsi tidak langsung (kehadirannya tidak sangat menentukan dan ada yang berfungsi langsung (kehadirannya sangat menentukan) terhadap proses belajar mengajar. Prasarana pendidikan berfungsi tidak langsung (kehadirannya tidak sangat menentukan), termasuk dalam prasarana pendidikan ini adalah tanah, halaman, pagar, tanaman, bangunan sekolah, jaringan jalan, air, lestrik, telepon, serta perabot/mobiler. Sedangkan sarana pendidikan berfungsi langsung (kehadirannya sangat menentukan) terhadap proses belajar mengajar, seperti alat pelajaran, alat peraga, alat praktek dan media pendidikan.
¢ Kedua, ditinjau dari jenisnya. Fasilitas pendidikan dapat dibedakan menjadi fasilitas fizikal dan fasilitas bukan fizikal. Fasilitas fizikal atau fasilitas material yaitu segala sesuatu yang berwujud benda mati atau dibendakan yang mempunyai peranan untuk memudahkan atau melancarkan sesuatu usaha, seperti kendaraan, mesin tulis, komputer, perabot, alat peraga, model, media, dan sebagainya. Fasilitas bukan fizikal yakni sesuatu yang bukan benda mati, atau kurang dapat disebut benda atau dibendakan, yang mempunyai peranan untuk memudahkan atau melancarkan sesuatu usaha seperti manusia, jasa, dan uang.
¢ Ketiga, Ditinjau dari sifat barangnya. Sarana dan prasarana pendidikan dapat dibedakan menjadi barang bergerak dan barang tidak bergerak, yang kesemuanya dapat mendukung pelaksanaan tugas. Barang bergerak atau barang berpindah/dipindahkan dikelompokkan menjadi barang habis-pakai dan barang tak habis pakai.
a) Barang habis-pakai ialah barang yang susut volumenya pada waktu dipergunakan, dan dalam jangka waktu tertentu barang tersebut dapat susut terus sampai habis atau tidak berfungsi lagi, seperti kapur tulis, tinta, kertas, spidol, penghapus, sapu dan sebagainya.
b) Barang tak-habis-pakai ialah barang-barang yang dapat dipakai berulang kali serta tidak susut volumenya semasa digunakan dalam jangka waktu yang relatif lama, tetapi tetap memerlukan perawatan agar selalu siap pakai untuk pelaksanaan tugas, seperti mesin tulis, komputer, mesin stensil, kendaraan, perabot, media pendidikan dan sebagainya.
Sedangkan barang tidak bergerak ialah barang yang tidak berpindah-pindah letaknya atau tidak bisa dipidahkan, seperti tanah, bangunan/gedung, sumur, menara air, dan sebagainya.

3. Proses Pengelolaan Sarana dan Prasarana

Menurut Subagio Atmodieirio (2000), pengelolaan (manajemen) perlengkapan meliputi fungsi-fungsi sebagai berikut :
A. Fungsi perencanaan dan penentuan kebutuhan
Melalui rencana dan penentuan kebutuhan akan dihasilkan antara lain : rencana pembelian, rencana rehabilitas, rencana distribusi, rencana sewa, dan rencana pembuatan.
B. Fungsi penganggaran
Fungsi ini terdiri atas kegitan – kegiatan dan usha-usaha untuk merumuskan perincian penentuan kebutuhan dalam suatu skala standar, yaitu skala mata uang dan jumlah biaya dengan memperhatikan pengarahan dan pembatasan yang berlaku.
Anggaran sarana dan prasarana meliputi : anggaran pembelian, anggaran perbaikan dan pemeliharaan, anggaran penyimpanan dan penyluran, anggaran penelitian, dan anggaran pengembngan barang.
C. Fungsi pengadaan
Pengadaan adalah kegiatan dan usaha untuk menambah dan memenuhi kebutuhan barang dan jasa berdasarkan peraturan yang berlaku dengan menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada.
Pengadaan dapat dilakukan dengan cara : pembelian, penyewaan, peminjaman, pemberian(hibah), penukaran, pembuatan, dan perbaikan.
D. Fungsi penyimpanan
Penyimpanan merupakan suatu kegiatan dan usaha melakukan pengurusan penyelenggaraan dan pengaturan barang persediaan didalam ruang penyimpanan.
Fungsi penyimpanan meliputi penyipn ruang-ruang penyimpanan, tatalaksana penyimpanan, tindakankeamanan dan keselamatan.
E. Fungsi penyaluran
Penyaluran merupakan kegiatan dan usaha untuk melakukan pengurusan, penyelenggaraan dan pengaturan pemindahan barang dari suatu tempat ketempat lain, yaitu dari tempat penyimpanan ke tempat pemakaian.
F. Fungsi pemeliharaan
Pemeliharaan adalah suatu proses kegiatan untuk mempertahankan kondisi teknis dan daya guna suatu alat produksi atau fasilitas kerja (sarana dan prasarana) dengan jalan merawatny, memperbaiki, merehabilitasi dan menyempurnakannya.
G. Fungsi penghapusan
Fungsi penghapusan adalah kegiatan dan usaha-usaha pembebasan barang dari pertanggung jawaban sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
H. Fungsi pengendalian
Fungsi pengendalian adalah fungsi yang mengatur dan mengarahkan cara pelaksanaan dari suatu rencana, program, proyek dan kegiatan, baik dengan pengaturan dalam bentuk tatalaksana ataupun melalui tindakan turun tangan untuk memungkunkan optimasi dalam penyelenggaraan suatu rencana, program, proyek, dan kegiatan oleh unsur dan unit pelaksana.

4. Pentingnya sarana dan prasarana dalam proses pembelajaran

Sekolah merupakan lembaga sosial yang keberadaannya merupakan bagian dari sistem sosial bangsa yang bertujuan untuk mencetak manusia susila yang cakap, demokratis, bertanggung jawab, beriman, bertaqwa, sehat jasmani dan rohani, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian yang mantap dan mandiri. Agar tujuan tersebut dapat tercapai maka dibutuhkan kurikulum yang kuat, baik secara infrastruktur maupun suprastruktur.
Guru sebagai pendidik dituntut untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran yang menarik dan bermakna sehingga prestasi yang dicapai dapat sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Setiap mata pelajaran memiliki karakter yang berbeda dengan pelajaran lainnya. Dengan demikian, masing-masing mata pelajaran juga memerlukan sarana pembelajaran yang berbeda pula. Dalam menyelenggarakan pembelajaran guru pastinya memerlukan sarana yang dapat mendukung kinerjanya sehingga pembelajaran dapat berlangsung dengan menarik. Dengan dukungan sarana pembelajaran yang memadai, guru tidak hanya menyampaikan materi secara lisan, tetapi juga dengan tulis dan peragaan sesuai dengan sarana prasarana yang telah disiapkan guru.
Guru membutuhkan sarana pembelajaran dalam menunjang kegiatan pembelajaran. Selain kemampuan guru dalam menyelenggarakan kegiatan pembelajaran, dukungan dari sarana pembelajaran sangat penting dalam membantu guru. Semakin lengkap dan memadai sarana pembelajaran yang dimiliki sebuah sekolah akan memudahkan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai tenaga pendidikan. Begitu pula dengan suasana selama kegiatan pembelajaran. Sarana pembelajaran harus dikembangkan agar dapat menunjang proses belajar mengajar.
Yamin menyebutkan beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam menunjang proses belajar mengajar: 1) perpustakaan, 2) sarana penunjang kegiatan kurikulum, dan 3) prasarana dan sarana kegiatan ekstrakurikuler dan mulok.
Mengingat pentingnya sarana prasarana dalam kegiatan pembelajaran, maka peserta didik, guru dan sekolah akan terkait secara langsung. Peserta didik akan lebih terbantu dengan dukungan sarana prasarana pembelajaran. Tidak semua peserta didik mempunyai tingkat kecerdasan yang bagus sehingga penggunaan sarana prasarana pembelajaran akan membantu peserta didik, khususnya yang memiliki kelemahan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Bagi guru akan terbantu dengan dukungan fasilitas sarana prasarana. Kegiatan pembelajaran juga akan lebih variatif, menarik dan bermakna. Sedangkan sekolah berkewajiban sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap pengelolaan seluruh kegiatan yang diselenggarakan. Selain menyediakan, sekolah juga menjaga dan memelihara sarana prasarana yang telah dimiliki.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana pendidikan adalah semua perangkat atau fasilitas atau perlengkapan dasar yang secara langsung dan tidak langsung dipergunakan untuk menunjang proses pendidikan dan demi tercapainya tujuan pendidikan. Beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam menunjang proses belajar mengajar: 1) perpustakaan, 2) sarana penunjang kegiatan kurikulum, dan 3) prasarana dan sarana kegiatan ekstrakurikuler.
Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
Kepala sekolah bertanggung jawab atas pengadaan sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan, mengingat sarana dan prasarana itu sendiri mempunyai peranan yang sangat penting bagi terlaksananya proses pembelajaran di sekolah serta menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

B. Kritik dan Saran

Dalam pembahasan di atas tentang pentingnya sarana dan prasarana pendidikan dalam proses belajar mengajar, tentunya sangat jauh dari kesempurnaan oleh karna itu kritik dan saran yang membangun untuk lebih baik lagi sangat di perlukan untuk kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyasa, 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Burhanudin, Yusak. 2005. Administrasi Pendidikan. Bandung : Pustaka Setia.
Gunawan, Ary H. 1996. Administrasi Sekolah “Administrasi Pendidikan Mikro” Jakarta : Rineka Cipta
http://skjrsyedalwi.edu.my/wp-content/uploads/2013/01/sarana-pendidikan.doc.
http://abdullahqiso.blogspot.com/2013/06/sarana-dan-prasarana-pendidikan.html.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

TEORI KOKNITIVISME DAN PERANANNYA DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN

MAKALAH
TEORI KOGNITIVISME DAN PENERAPANNYA DALAM KEGIATAN PEMBELAJARAN

DI SUSUN :

ADRIMAN
1266045001

PENDIDIKAN PROFESI GURU TERINTEGRASI
PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat tuhan yang maha esa karena atas kehendaknya penulis dapat menyelesaikan makalah “Pengembangan Media dan Bahan Ajar” yang berjudul”TEORI BEHAVIORISME DAN PENERAPAN DALAM PEMBELAJARAN”
Tak lupa pula penulis menucapkan terima kasih bagi semua pihak yang turur serta membantu dalam penyelesaian makalah ini.Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya kritik dan saran positif dari pembaca makalah ini semoga maklah ini menjadi lebih baik dan berdayaguna di masa yang akan datang.

Makassar, 6 Oktober 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN PENULISAN
BAB II PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR TEORI BEHAVIORISME
B. BPENGERTIAN TEORI BEHAVIORISME
C. CAKUPAN TEORI BEHAVIORISME
D. APLIKASI TEORI BEHAVIORISME DALAM PEMBELAJARAN.
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Behaviorisme timbul di Amerika Serikat pada tahun 1913 dan menjadi aliran yang mapan betul sekitar 1915. Aliran ini merupakan perluasan dan sistematisasi dari aliran koneksionalisme serta penentang aliran sebelumnya, strukturalisme di Jerman dan Fungsioanalisme di Amerika Serikat. Aliran baru biasanya timbul bersumber dari ketidakpuasan terhadap sistem yang ada. Pandangan yang sempit strukturalisme membawa kematiaannya. Sebaliknya, karena luas dan beraneka ragamnya yang diaujakan oleh fungsionalisme, yang menyebabkan berakhirnya gerakan itu. ketidakmampuan strukturalisme dan fungsionalisme menyusun metode penelitian yang tepat batasnya dan pokok kajian yang jelas ruang lingkupnya menimbulkan iklim terjadinya perubahan-perubahan. Dalam hubungan itulah J.B. Watson melancarkan gerakan studi yang mempelajari perilaku atau peri keadaan pikiran orang.
Perintis aliran behaviorisme adalah J.B. Watson, C.H. Hull, E.R Guthrie. Menurut Watson perilaku ialah reaksi organisme sebagai keseluruhan terhadap perangsang dari luar yang rekasi itu terdiri dari gerakan-gerakan dan perubahan-perubahan fisik tertentu, yamg dapat diamati secara objektif. Menurut pandangan behaviorisme, psikologi adalah bagian yang benar-benar objektif eksperimental tindak percobaan dari pengetahuan alam. ahli-ahli behaviorisme telah membuat deskripsi peristiwa-peristiwa psikologis yang realistis dan komprehensif.
Watson, penganut aliran behaviorisme, mengemukakan bahwa pengaruh lingkungan (pendidikan), belajar, pengalaman sangat menentukan perkembangan seseorang. Sebagai penyempurnaan behaviorisme, muncul tiga teori dari dasawarsa 1930-an dan 1940-an, yaitu teori system perilaku dari Clark Hull, teori Kontinguiti dari Edwar Guthrie, dan teori Kondisioning operan dari B.F. Skinner. Ketiganya disebut teori S-R karena mendefinisikan belajar sebagai kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dengan respon tertentu.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep dasar mengenai teori Behaviorisme?
2. Jelaskan pengertian mengenai teori behaviorisme?
3. Apa saja yang menjadi cakupan teori behaviorisme dalam pembelajaran?
4. Jelaskan aplikasi teori behaviorisme dalam pembelajaran?

C. Tujuan Penulisan

1. Dapat memahami konsep dasar teori behaviorisme
2. Dapat mengetahui pengertian teori behaviorime
3. Dapat menyebut dan menjelaskan cakupan teori behaviorisme
4. Dapat menjelaskan serta mengaplikasikan teori behaviorisme dalam suatu pembelajaran

BAB II

A. Konsep Dasar Teori-teori Belajar Behaviorisme

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan. Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Premis dasar teori belajar behavioristik menyatakan bahwa interaksi antara stimulus respons dan penguatan terjadi dalam suatu proses belajar. Teori belajar behavioristik sangat menekankan pada hasil belajar, yaitu perubahan tingkah laku yang dapat dilihat. Hasil belajar diperoleh dari proses penguatan atas respons yang muncul terhadap stimulus yang bervariasi.
Salah satu teori belajar behavioristik adalah teori classical conditioning dari Pavlov yang didasarkan pada reaksi sistem tak terkondisi dalam diri seseorng serta gerak refleks setelah menerima stimulus. Menurut Pavlov, penguatan berperan penting dalam mengkondisikan munculnya respons yang diharapkan. Jika penguatan tidak dimunculkan, dan stimulus hanya ditampilkan sendiri, maka respons terkondisi akan menurun dan atau menghilang. Namun, suatu saat respons tersebut dapat muncul kembali.
Sementara itu, connectionism dari Thorndike menyatakan bahwa belajar merupakan proses coba-coba sebagai reaksi terhadap stimulus. Respons yang benar akan semakin diperkuat melalui serangkaian proses coba-coba, sementara respons yang tidak benar akan menghilang. Akibat menyenangkan dari suatu respons akan memperkuat kemungkinan munculnya respons. Respons yang benar diperoleh dari proses yang berulang kali yang dapat terjadi hanya jika siswa dalam keadaan siap.
Teori behaviorism dari Watson menyatakan bahwa stimulus dan respons yang menjadi konsep dasar dalam teori perilaku haruslah berbentuk tingkah laku yang dapat diamati. Interaksi stimulus dan respons merupakan proses pengkondisian yang akan terjadi berulang-ulang untuk mencapai hasil yang cukup kompleks.
Ciri dari teori behavioristik adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Dalam hal konsep pembelajaran, proses cenderung pasif berkenaan dengan teori behavioris. Pelajar menggunakan tingkat keterampilan pengolahan rendah untuk memahami materi dan material sering terisolasi dari konteks dunia nyata atau situasi. Little tanggung jawab ditempatkan pada pembelajar mengenai pendidikannya sendiri.
Beberapa Prinsip Dasar Prinsip dasar Behaviorisme :
• Perilaku nyata dan terukur memiliki makna tersendiri, bukan sebagai perwujudan dari jiwa atau mental yang abstrak
• Aspek mental dari kesadaran yang tidak memiliki bentuk fisik adalah pseudo problem untuk sciene, harus dihindari.
• Penganjur utama adalah Watson : overt, observable behavior, adalah satu-satunya subyek yang sah dari ilmu psikologi yang benar.
• Dalam perkembangannya, pandangan Watson yang ekstrem ini dikembangkan lagi oleh para behaviorist dengan memperluas ruang lingkup studi behaviorisme dan akhirnya pandangan behaviorisme juga menjadi tidak seekstrem Watson, dengan mengikutsertakan faktor-faktor internal juga, meskipun fokus pada overt behavior tetap terjadi.
• Aliran behaviorisme juga menyumbangkan metodenya yang terkontrol dan bersifat positivistik dalam perkembangan ilmu psikologi.
• Banyak ahli (a.l. Lundin, 1991 dan Leahey, 1991) membagi behaviorisme ke dalam dua periode, yaitu behaviorisme awal dan yang lebih belakangan.

B. Pengertian Teori Behaviorisme

Behaviorisme adalah teori perkembangan perilaku, yang dapat diukur, diamati dan dihasilkan oleh respons pelajar terhadap rangsangan. Tanggapan terhadap rangsangan dapat diperkuat dengan umpan balik positif atau negatif terhadap perilaku kondisi yang diinginkan. Hukuman kadang-kadang digunakan dalam menghilangkan atau mengurangi tindakan tidak benar, diikuti dengan menjelaskan tindakan yang diinginkan.
Pendidikan behaviorisme merupakan kunci dalam mengembangkan keterampilan dasar dan dasar-dasar pemahaman dalam semua bidang subjek dan manajemen kelas. Ada ahli yang menyebutkan bahwa teori belajar behavioristik adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret.
Ciri dari teori belajar behaviorisme adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Guru yang menganut pandangan ini berpandapat bahwa tingkahlaku siswa merupakan reaksi terhadap lingkungan dan tingkahl laku adalah hasil belajar.
Aplikasi teori belajar behaviorisme dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar. Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Metode behaviorisme ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti : Kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya: percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang, olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan langsung seperti diberi permen atau pujian.

C. Cakupan Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran.

Kaum behavioris menjelaskan bahwa belajar sebagai suatu proses perubahan tingkah laku dimana reinforcement dan punishment menjadi stimulus untuk merangsang pebelajar dalam berperilaku. Pendidik yang masih menggunakan kerangka behavioristik biasanya merencanakan kurikulum dengan menyusun isi pengetahuan menjadi bagian-bagian kecil yang ditandai dengan suatu keterampilan tertentu. Kemudian, bagian-bagian tersebut disusun secara hirarki, dari yang sederhana sampai yang komplek (Paul, 1997).
Pandangan teori behavioristik telah cukup lama dianut oleh para pendidik. Namun dari semua teori yang ada, teori Skinnerlah yang paling besar pengaruhnya terhadap perkembangan teori belajar behavioristik. Program-program pembelajaran seperti Teaching Machine, Pembelajaran berprogram, modul dan program-program pembelajaran lain yang berpijak pada konsep hubungan stimulus-respons serta mementingkan faktor-faktor penguat (reinforcement), merupakan program pembelajaran yang menerapkan teori belajar yang dikemukakan Skiner.
Teori behavioristik banyak dikritik karena seringkali tidak mampu menjelaskan situasi belajar yang kompleks, sebab banyak variabel atau hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan dan/atau belajar yang dapat diubah menjadi sekedar hubungan stimulus dan respon. Teori ini tidak mampu menjelaskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam hubungan stimulus dan respon.
Pandangan behavioristik juga kurang dapat menjelaskan adanya variasi tingkat emosi pebelajar, walaupun mereka memiliki pengalaman penguatan yang sama. Pandangan ini tidak dapat menjelaskan mengapa dua anak yang mempunyai kemampuan dan pengalaman penguatan yang relatif sama, ternyata perilakunya terhadap suatu pelajaran berbeda, juga dalam memilih tugas sangat berbeda tingkat kesulitannya. Pandangan behavioristik hanya mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati. Mereka tidak memperhatikan adanya pengaruh pikiran atau perasaan yang mempertemukan unsur-unsur yang diamati tersebut.
Teori behavioristik juga cenderung mengarahkan pebelajar untuk berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif. Pandangan teori ini bahwa belajar merupakan proses pembentukan atau shaping, yaitu membawa pebelajar menuju atau mencapai target tertentu, sehingga menjadikan peserta didik tidak bebas berkreasi dan berimajinasi. Padahal banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar, proses belajar tidak sekedar pembentukan atau shaping.
Skinner dan tokoh-tokoh lain pendukung teori behavioristik memang tidak menganjurkan digunakannya hukuman dalam kegiatan pembelajaran. Namun apa yang mereka sebut dengan penguat negatif (negative reinforcement) cenderung membatasi pebelajar untuk berpikir dan berimajinasi.
Menurut Guthrie hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Namun ada beberapa alasan mengapa Skinner tidak sependapat dengan Guthrie, yaitu:
• Pengaruh hukuman terhadap perubahan tingkah laku sangat bersifat sementara;
• Dampak psikologis yang buruk mungkin akan terkondisi (menjadi bagian dari jiwa si terhukum) bila hukuman berlangsung lama;
• Hukuman yang mendorong si terhukum untuk mencari cara lain (meskipun salah dan buruk) agar ia terbebas dari hukuman. Dengan kata lain, hukuman dapat mendorong si terhukum melakukan hal-hal lain yang kadangkala lebih buruk daripada kesalahan yang diperbuatnya.
Skinner lebih percaya kepada apa yang disebut sebagai penguat negatif. Penguat negatif tidak sama dengan hukuman. Ketidaksamaannya terletak pada bila hukuman harus diberikan (sebagai stimulus) agar respon yang muncul berbeda dengan respon yang sudah ada, sedangkan penguat negatif (sebagai stimulus) harus dikurangi agar respon yang sama menjadi semakin kuat. Misalnya, seorang pebelajar perlu dihukum karena melakukan kesalahan. Jika pebelajar tersebut masih saja melakukan kesalahan, maka hukuman harus ditambahkan. Tetapi jika sesuatu tidak mengenakkan pebelajar (sehingga ia melakukan kesalahan) dikurangi (bukan malah ditambah) dan pengurangan ini mendorong pebelajar untuk memperbaiki kesalahannya, maka inilah yang disebut penguatan negatif. Lawan dari penguatan negatif adalah penguatan positif (positive reinforcement). Keduanya bertujuan untuk memperkuat respon.

D. Teori Behaviorisme Dalam Pembelajaran.

Aliran psikologi belajar yang sangat besar mempengaruhi arah perkembangan teori dan praktek pendidikan dan pembelajaran hingga kini aliran behavioristik. Aliran ini menekankankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respons ataus perilaku tertentu dapat dibentuk karena dikondisi dengan cara tertentu dengan mnggunkan metode drill atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan reinforcement, dan akan menghilang bila di kenai hukuman.
Istilah-Istilah seperti hubungan stimulus-respons, individu atau siswa pasif,, perilaku sebagai hasil belajar yang tampak, pembentukan perilaku (Shapping) dengan penataan kondisi yang ketat, reinforcement dan hukuman, ini semua merupakan unsure-unsur yang sangat penting dalam teori behavioristik. Teori ini hingga sekarang masih merajai praktek pembelajaran Indonesia. Hal ini tampak sangat jelas pada penyelenggaraan pembelajaran dari tingkat paling dini, seperti kelompo bermain dan taman kanak-kanak, sekolah dasar, seolah menengah, bahkan sampai di Perguruan tinggi, pembentukan perilaku dengan cara drill (Pembiasaan) disertai dengan reinforcemen atau hukuman masih sering dilakukan.
Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajran tergantung dari beberapa hal seperti, tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik siswa, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaranyang dirancang dan dilaksanakan berpijak pada teori Behavioristik mamandang bahwa pengetahuan adalah objektif, pasti tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan kepada ke orang yang belajar atau siswa. Siswa yang diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.
Fungsi Mind atau pikiran adlah untuk menjiplak struktur pengetahuan yang sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilakn dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut.
Karena teori behavioristik memandang bahwa sebagai sesuatu yang ada di dunia nyata telah terstruktur rapid an teratur, maka siswa atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aruran yang jelas dan ditetapkan lebih dahulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak di kaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan di kategorikan sebagai betuk perilak yang pantas diberi hadiah. Demikian juga ketaataan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar siswa atau pserta didik adalah obyek yang harus berprilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontol belajar harus dipegang oleh system yang berada di luar diri siswa.
Tujuan pembelajaran menurut teori behaviotistik ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedangkan belajar sebagai aktivitas “mimetic” yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari dalam bentuk laporan, kuis, atau tes penyajian isi atau materi pelajaran yang menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian keseluruhan. Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktifitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks atau buku wajib dengan penekananan pada keterampilan mengungkapkan embali buku teks atau buku wajib tersebut. Pembelajaran menekankan pada hasil belajar.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper dan test. Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar. Maksudnya bila siswa menjawab “Benar” sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajar. Evaluasi belajar dipandang sebagai bagian yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah selesai kegiatan pembelajaran. Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individu.
Secara umum, langka-langka pembelajaran yang berpijak pada teori behavioristik yang dikemukakan oleh Siciati dan Trasetya Irawan (2001) Dapat digunakan dalam menrancang pembelajaran. Langka-langka tersebut meliputi :
1. Menentukan tujuan-tujuan pembelajaran.
2. Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal (Entri Behavior) Siswa.
3. Menentukan materi pembelajaran.
4. Memecahkan materi pelajaran menjadi bagian kecil-kecil, meliputi pokok bahasan, sub pokok bahasan, topic dan sebagainya.
5. Menyajikan materi pembelajaran.
6. Memberikan stimulus, dapat berupa :
Pertanyaan baik lisan maupun tertulis, test atau tertulis, latihan, atau tugas-tugas
7. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan siswa.
8. Memberikan penguatan atau reinforcement (mungkin penguatan positif dan atau penguatan negative ), ataupun hukuman
9. Memberikan stimulus baru.
10. Mengamati dan mengkaji respon yang diberikan siswa.
11. Memberikan penguatan lanjutan dan hukuman.
12. Demikian seterusnya, dan
13. Evaluasi hasil belajar.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Teori belajar behavoiristik masih dirasakan dalam kegiatan pembelajaran. Selain teori ini telah mampu memberikan sumbangan atau motifasi bagsi lahirnya teori belajar yang baru, juga karena prinsip-prinsipnya (walaupun terbatas) terasa masih dapat diaplikasikan secara praktis dalam pembelajaran. Walaupun teori ini mulai mendapatkan kritikan namun dalam hal-hal tertentu masih diperlukan khususnya dalam mempelejari aspek-aspek yang sifatnya relative permanen dengan tujuan belajar yang telah dirumuskan secara ketat
Secara ringkas, teori behavioritik mengatakan bahwa belajar adalah perrubahan tingkah laku. Seseorang telah dianggap belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukan perubahan tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respon. Sedangkan apa yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur adalah stimulus dan respon.
Penguatan reinforcement adalah factor penting dalam belajar. Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon. Bila penguatan ditambahkan (Positive Reinforcemet) maka respon akan semakin kuat. Demikian juga jika penguatan dikurangi (negative reinforcement) maka respon juga akan mennguat.
Aplikasi teori ini dalam pembelajaran, bahswa kegiatan pembelajaran ditekankan sebagai atifitas “mimetic” yang menuntun siswa untuk mengungkapakan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari. Penyajian materi pembelajaran mengikuti urutan dari bagian-bagian keseluruhan. Pembelajaran dan evaluasi menekankan pada hasil, dan evaluasi menuntut satu jawaban benar. Jawaban yang benar menunjukan siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.

B. Saran

Saran penulis bagi semua mahasiswa terkhusus bagi mahasiswa PPGT yang akan menjadi guru professional, materi mengenai belajar dan pembelajaran ini diharapkan dapat membantu terlaksananya tujuan dari pembelajaran yang terdiri dari beberapa toeri belajar terkhusus teori behaviorisme yang menenkan pembelajaran pada perubahan perilaku menjadi patokan bagi kita semua agar dapat menjalanakan fungis sebagai guru dengan baik.

Dipublikasi di Tak Berkategori | Tinggalkan komentar